Toyota Kijang adalah Fenomena

Tiap bangsa memiliki preferensi transportasi khas sesuai kebutuhan spesifik budaya dan daerahnya. Dulu kala, ada bangsa pengguna kuda dalam berbagai jenisnya, ada juga yang pengguna keledai, llama, onta, burung onta, pedati sapi, seterusnya. Di era mobil, orang Amerika Serikat, memiliki preferensi berbeda dari orang Amerika Latin, berbeda lagi dengan orang Eropa, Jepang, Cina, dan seterusnya. Preferensi khas Indonesia coba dipahami dan diwadahi di sini, dan dijuduli Kijang-o-logi, karena amat dipengaruhi oleh satu jenis mobil, yaitu Toyota Kijang!
RI-1-Naik-kijang
RI 1 Naik Kijang

Kijang-pertama-launching-35_jpg</a
Kijang Pertama Launching

… Toyota Kijang adalah fenomena…

Prototipe kijang pertama dipertontonkan di Pekan Raya Jakarta 1975 sebagai suatu BUV atau Basic Utility Vehicle. Berbagai komentar miring bermunculan, bahkan dari para penggagasnya sendiri. Ada yang menyebutkannya sebagai kotak sabun bermesin, gerobak bermesin, dan seterusnya.

Bersama-sama dengan Kijang pada saat itu tampil pula BUV lain Vauxhall Morina (mesin ex. Inggris), Datsun Sena (mesin ex. Jepang juga, yaitu kalau tidak salah ingat ex. Datsun 120Y sedan yang menjadi rival langsung Toyota Corolla), dan VW Mitra (mesin ex. pompa air dengan technical support Jerman). Belakangan hanya Kijang yang survive dan sukses.

Walaupun yang sukses hanya Toyota Kijang (yang malah tidak diaku sebagai konsep mobil nasional), konsep mobil nasional sendiri di Indonesia banyak datang silih berganti, di antaranya yang lumayan terkenal:

Pendirian pabrik-pabrik asembling atau CKD-isasi disertai pembatasan mobil-mobil CBU.

Mitsubishi Colt (ex. KTB, Krama Yudha Tiga Berlian) didukung oleh industri Karoseri nasional. Industri Karoseri nasional saat ini masih ada dan bertahan (walaupun agak terseok-seok?); sementara Mitsubishi Coltnya sudah berubah wujud (menjadi Mitsubishi T120s generasi baru yang berbeda konsep dengan aslinya; plus Mitsubishi L300 yang lebih besar, yang juga dinamai Colt).

Toyota Kijang, VW Mitra, Vauxhall Morina, dan Datsun Sena yang dibangun dari konsep kendaraan basis yang seadanya sebagaimana disebutkan di atas.

MR (Mobil Rakyat) yang diluncurkan oleh Indomobil/Mazda sebagai mobil rakyat, khas Indonesia, murah, namun nyaman. Konsep ini tidak sukses karena dipersepsi sebagai mobil murahan, merendahkan gengsi, kurang nyaman (tidak senyaman rencananya), kuno, dan tidak handal (ringkih).

Mobil Timor (ex. kerjasama Tommy Suharto & KIA Motors Korea Selatan). Karena perlakuan khusus yang tidak adil, Mobnas berhadapan dengan Jepang, Eropa, Amerika, dan WTO, sehingga dibatalkan. Selain itu, Timor dihajar krismon dan dihajar reformasi. Secara kasat mata, kita sama-sama ketahui bahwa mobnas Timor adalah mobnas palsu karena nyatanya Timor adalah CBU asal Korea Selatan. Walaupun, secara kualitas, Timor mungkin merupakan mobnas yang paling baik yang pernah ada (pada jamannya masing-masing).

Mobil Maleo (ex. Bakrie dengan engineering support dari Inggris). Konsep desain dan engineeringnya (konon?) original, asli ex. orang-orang Indonesia. Namun, seperti kita sama-sama ketahui, membuat mobil bukan semata-mata desain dan engineering. Maleo tidak siap pada financing, marketing, strong-brandname, distribusi, dan seterusnya yang merupakan faktor esensial dalam sukses suatu produk mobil.

Mobil Kancil si pengganti Bajaj (ex. PT. Dirgantara Indonesia/IPTN). (Konon?) baru diluncurkan pada Oktober 2002 ini, sehingga belum dapat dikatakan berhasil atau gagalnya.

Kalau Porsche berbangga-bangga sejak awalnya sebagai penggagas platform VW Beetle/Kodok, tidak demikian dengan penggagas Toyota Kijang. Saking malu-maluinnya prototipe Toyota Kijang, jangankan orang lain, para penggagasnya pun ragu menyebutnya sebagai suatu mobil sungguhan baik di Jepang maupun di Indonesia (dan lebih malu lagi untuk mengakui sebagai penggagasnya, bahkan sampai sekarang?). Akibatnya, sampai sekarang tidak jelas siapa-siapa orangnya yang dulu punya ide membuat mobil seperti itu.

Soal penamaan Kijang itu sendiri ada sejumlah kisah beredar. Keberanian mengambil nama asli Indonesia itu pun sudah sesuatu yang di luar kelaziman Toyota bahkan sampai sekarang. Seperti kita sama-sama ketahui, Toyota menggunakan nama-nama seperti: Corolla, Corona, Crown, Dyna, Hi-Ace, Hi-Lux, Starlex, Soluna, dan Land Cruiser.

Di antaranya, konon sebelum nama Kijang sempat muncul nama Kancil. Karena takut disebut kancil nyolong timun, dan mungkin takut konotasi buruk dari kata-kata berakhiran -il dalam bahasa kita (kecil, usil, jail, mecicil, tengil, nyempil, upil, centil, dst), akhirnya nama kancil tidak jadi dipakai. Di Filipina, sempat meluncur dengan nama Tamaraw atau Kerbau, tetapi tidak sesukses seperti di Indonesia. Nama kerbau atau kebo itu sendiri juga tidak pernah dipertimbangkan untuk dipakai di Indonesia.

Sedikit out of context, tahun 2002 ini dikabarkan mobil dengan nama Kancil akhirnya juga ada, dibuat oleh PT. Dirgantara Indonesia (ex. IPTN), sebuah city-car atau micro-car seukuran Bajaj beroda empat. Apakah yang ini sempat nyolong timun? Kita amati saja.Kijang yang dijual komersil ke masyarakat luas diperkenalkan pertama kali 9 Juni 1977 dalam bentuk sangat sederhana. Hanya tersedia satu model: Pickup. Pickup ini pun tidak utuh, beberapa ciri lucunya dirincikan di bawah ini.

Plat bodi seperti seng tidak benar-benar rata, tidak seperti mobil sungguhan macam Corolla. Plat body yang demikian ini baru hilang pada generasi Kijang Super. Dengan konstruksi seperti itu, bila berjalan terdengar bunyi-bunyian gombrang-gambreng seperti suara plat besi dipukul-pukul.

Garis body demikian anehnya, sehingga karoseri seperti apapun tidak akan kelihatan nyetel dengan bodi pick-up aslinya. Pintu depan dan fender, keduanya tidak dalam satu garis serasi.

Pintu hanya setengah badan dan seperti ditempelkan belakangan.

Engsel pintu di luar, dan semula seperti dapat dilihat di foto-foto.

Handel pintu seperti handel pintu rumah. Tidak ada handel pintunya di bagian luar dan juga tidak ada kunci pintunya (Central lock juga tentunya tidak ada! Apa yang mau disentralkan?).

Trim bagian dalamnya sudah tentu juga telanjang bulat alias tanpa trim apa-apa.

Kaca depan datar seperti kaca rumah, tidak ada lengkungnya sedikitpun. Ada itupun sudah untung banget!. ;-)

Washer kacanya ala kadarnya ini konon pernah menjadi lelucon tersendiri di salah satu majalah otomotif.

Anti Embun. Dalam keadaan hujan, penumpang tidak perlu repot mengelap embun di kaca kiri-kanan, depan-belakang.

Bukan karena sudah diperlengkapi dengan AC yang bisa menyingkirkan embun (Edan apa, Kijang ginian pake AC!), tetapi karena kaca Toyota Kijang hanya ada di bagian depan (windshield) persis bajaj. Jadi cukup kaca depan saja yang dilap. Yang mana keberadaan lap di dalam mobil adalah esensial.

Jendela samping ditutup dengan terpal dan plastik buram. Kalau mobil lain dibedakan tipe bukaan jendelanya menjadi dua, yaitu sistem engkol mekanis dan sistem power window elektris, maka Kijang ini plus satu macam lagi, yaitu tipe gulung (Sapa yang mau ngaku jadi penggagasnya?). Demikian pula di belakang pengemudi tidak ada kaca penutupnya.

Interior pun seadanya. Ada speedometer itu pun sudah untung sekali.

Dashboard gambreng terbuat dari besi seperti baki saja.

Lantai kabin pun dari plat besi telanjang saja, tanpa penutup karet dan apalagi karpet bludru.

Waterproofing. Tidak ada usaha water proofing sedikit pun agar air tidak masuk ke interior kecuali joknya yang dibungkus plastik. (Ya gimana mau water proofing, wong jendela aja nggak ada!). Walaupun masuk air, toh masih lebih bagus dari pada bajaj, becak, atau sepeda motor.

Atap berbentuk sedikit seperti piramid/limas, tidak seperti atap mobil pada umumnya yang rata, lengkung, atau berprofil, tapi lebih mirip seperti genteng rumah. Opo tumon? Ini bukan main-main, tapi sungguhan begitulah adanya. Mungkin dimaksudkan agar tidak ada air tertinggal yang menyebabkan karat.

Rem tangan. Dalam keadaan darurat, bila pengemudi pingsan mendadak, penumpang tidak dapat ikut menarik rem tangan karena rem tangan lokasinya di sisi kanan pengemudi di depan pintu.

Kap Mesin. Kijang generasi pertama ini terkenal dengan julukan Kijang Buaya, karena kap mesin yang dapat dibuka sampai bagian sampingnya seperti mulut buaya. Tentunya tidak dirinci lagi apakah buaya sungai atau buaya laut atau buaya apa, yang jelas bukan buaya darat, dan apalagi buaya jadi-jadian.

Aksesori macam ban radial, velg racing, AC, dan Radio/Tape tidak perlu dibicarakan lagi, pasti tidak ada; karena pada masa itu Corolla pun tidak dijual dengan kelengkapan itu. Khusus untuk kijang, bila dipasangi Radio/Tape sama saja dengan sedekah buat maling karena toh jendela dan kunci pintu pun tidak ada.

Kualitas. Masih bisa disebutkan lagi beberapa keanehan yang mungkin mengharukan untuk disebutkan satu per satu. Ngomong-ngomong, Kijang Krista keluaran tahun 2002 saja pintunya bila dibanting keras masih terdengar gambreng, apalagi Kijang versi 25 tahun yang lalu.

Mesin yang digunakan tipe 3K berkapasitas 1.200 cc, mesin Corolla. Transmisi yang digunakan 4 percepatan. Ini mungkin satu-satunya yang bisa dibanggakan.

“Kijang Buaya” ini sudah mampu merebut hati masyarakat Indonesia. Ini terbukti dari angka penjualannya yang mencapai 26.806 unit hingga diluncurkan generasi selanjutnya. Beberapa hal yang membuatnya cukup laku adalah harganya yang murah sekitar satu jutaan lebih sedikit saja; sementara mobil ‘sungguhan’ pada saat itu di atas dua juta, dan kesistemannya, khususnya mesin dan rangkaiannya, ternyata handal karena memang diambilkan dari Corolla yang terkenal kesederhanaan dan kehandalannya.

Dalam hal harga murah itu, tidak perlu dijelaskan lebih lanjut, dengan fasilitas yang ‘lengkapnya’ seperti diringkaskan di atas, Kijang memang bisa dijual murah. Atau mungkin malah ‘harus’ dijual murah? (Kalau nggak mau ditimpukin khalayak ramai?). Dengan harga yang demikian itu, banyak keluarga-keluarga Indonesia yang semula hanya bisa punya mobil di dalam mimpi (itupun susah), jadi mampu mencicil Toyota Kijang. Walaupun kondisinya seperti di atas, tetapi menyandang nama Toyota (pada saat itu belum menjadi merek kelas atas, tapi sudah cukup mentereng), dan cukup isis untuk dipakai jalan-jalan keliling kota atau keliling kampung (asal tidak dalam keadaan hujan).

Apalagi bila sudah dalam bentuk minibus, wah serasa rakyat kecil naik kelas. Karena walaupun murah, rakyat Indonesia lebih banyak lagi yang beli kotak sabun bermesin pun belum mampu. Di pihak lain, masyarakat berduit yang lebih mapan, alergi tidak mau membeli Toyota Kijang, kecuali untuk keperluan kantor dan perniagaan, dan setengah mencibir melihat rakyat kecil naik kelas. Soal mencibir, mungkin insting manusiawi, ada saja orang yang tidak suka melihat orang lain kegirangan.

Warna dominan pada saat itu antara lain kuning, oranye seperti VW (Safari) camat, dan hijau kusam seperti Corolla. Mengapa oranye? Ini mungkin ada kisahnya juga. Namun warna oranye ini lebih untuk versi Pickup, Kijang yang dimodifikasi menjadi minibus hampir tidak ada yang oranye.

Selain itu, Kijang berdashboard besi ini juga populer sebagai Mikrolet ketika Jakarta pertama kali melakukan mikrolet-isasi. Berwarna biru muda sampai ke dashboardnya. Saingannya di mikrolet adalah Chevrolet Luv yang berbahan bakar diesel yang asap hitamnya hampir menyerupai kebakaran hutan itu. Chevy Luv generasi pertama ini garis bodinya juga aneh dan tidak bisa serasi dimodifikasi menjadi minibus mikrolet. Di lapangan ternyata Kijang lebih unggul dan belakangan, Chevy Luv lenyap ditelan jaman dan sekarang sudah sulit ditemui di jalanan. Luv sempat memunculkan generasi kedua yang lebih modis, tetapi generasi kedua ini tidak sempat meluas sebagai mikrolet dan tidak bertahan lama karena berbagai alasan: antara lain diesel versi saat itu yang belum wus-wus-wus, komitmen GM yang setengah-setengah, otomotif Jepang yang sedang menggebu-gebu, kehandalan Kijang yang lebih unggul, ketersediaan suku cadang Kijang yang lebih luas, dan seterusnya. Hingga generasi Kijang Kapsul, Kijang masih lalu lalang sebagai mikrolet atau angkutan kota.

Mengapa Kijang dan Luv saat itu merajai pasar mikrolet? Ini tentu ada kisahnya juga. Namun, ternyata Kijang yang lebih diposisikan sebagai mobil keluarga (dari pada sebagai mikrolet atau mobil barang), ternyata belakangan lebih luas pasarnya daripada Luv yang lebih diposisikan sebagai mobil barang.

Melanjutkan tradisinya, setahun setelah diluncurkan Kijang Buaya mengalami pengembangan, tahun 1978 dari satu model disempurnakan sedikit-sedikit dan dikembangkan menjadi tiga model, selanjutnya tahun 1979 ditambah satu model lagi, yaitu:

Pickup (ex. 1977). Semula terbuka di bagian belakang, hanya tertutup terpal. Tahun 1979 disempurnakan dengan diberi dinding body metal dan kaca tertutup di bagian belakang pengemudi/penumpangnya, bebas terpal.

Pickup Plus Atap (1978) (hanya di bagian atas, tidak di bagian samping) dan dilengkapi bangku, sehingga lebih manusiawi untuk mengangkut penumpang di bak.

Cab & Chassis (1978) (Pickup tanpa bak), sehingga memudahkan untuk dimodifikasi menjadi mobil box, tangki, diberi bak kayu, dlsb. Bentuk ini bila dimodifikasi menjadi minibus masih menyisakan sekat body di belakang jok depan sampai hampir setinggi pundak jok.

Cab Berlantai (1979) (kabin depan tanpa dinding belakang, namun dilengkapi lantai sampai ke ujung belakang).

Tahun 1979 dengan banyaknya penjualan Kijang, TAM merespons dengan menyempurnakan produknya, sedikit-sedikit menjadi bebas terpal. Handel pintu ditukar dengan tuas pintu mobil (gile bener, baru dua tahun kemudian!).

Bentuk cab-berlantai sangat memudahkan untuk digarap karoseri menjadi minibus. Visinya telah bergeser dari semula mobil asal bisa mengangkut orang dan barang, menjadi mobil niaga yang mudah dikonversi menjadi minibus. Saat itu minibus-isasi Kijang makin menjadi trend apalagi perusahaan karoseri sudah semakin matang karena telah mulai menggarap minibus sejak era Colt T120s si raja jalanan yang lebih dulu merajai.

Karena bonet/hidung-nya Kijang sedikit demi sedikit dapat menggeser kejayaan Colt T120 dan mobil-mobil cab-over (tanpa hidung) lainnya. Karena berbonet dipersepsi lebih aman daripada cab-over. Lebih aman dari apa? Ini sebenarnya juga relatif. Dengan tanpa kaca, atau kaca seadanya bukan dari jenis kaca-aman, karoseri yang dibuat sekedar untuk menahan hujan, sebetulnya tingkat pengamanan Kijang generasi saat itu juga pas-pasan sekali. Karena hidung peseknya dan karena masalah-masalah lain di Mitsubishi sendiri, T120 kemudian tergantikan Kijang.

Kijang Doyok [Generasi 2 (A): 1981-1985 (KF20)]

Mengapa Doyok? Ini ceritanya panjang sekali, tetapi suatu mobil yang dijuluki dengan nama seorang pelawak yang penampilan fisiknya seperti Doyok itu, sudah cukup menggambarkan bagaimana Kijang generasi kedua itu dipersepsi oleh khalayak. Mitsubishi Colt T120 tidak pernah dijuluki dengan nama pelawak (apalagi yang item kerempeng!), Isuzu Panther juga tidak, bahkan Bajaj si roda tiga juga tidak. Malah khusus untuk bemo, sebaliknya, malah pelawak Dono yang dijuluki Bemo, dan bukan bemo yang dijuluki Dono. Mengapa produk Toyota sampe di-doyok-kan? Kenapa tidak dijuluki Roy Marten atau Rano Karno?

Pada September 1981, generasi kedua dengan kode KF20 dirilis di pasaran. Visinya sudah lebih mantap lagi sebagai mobil yang siap dikonversi menjadi minibus dan tetap dapat dipakai sebagai pickup atau small truck juga bila diperlukan. Meskipun masih banyak kemiripan dengan generasi sebelumnya, kendaraan dengan nama populer “Kijang Doyok” ini telah mengalami perubahan cukup banyak, seperti letak engsel pintu yang tersembunyi, kap mesin yang hanya membuka di bagian atas moncong, serta gril juga permukaan pintu yang sama dengan bodi. Pembuatan karoseri minibus menjadi lebih mudah dan modis. Garis bodi dapat memanjang segaris dan serasi dari depan sampai ke ujung belakang.

Mesinnya sudah mengalami peningkatan dari 3K menjadi 4K, dengan kapasitas silinder 1.300 cc. Suspensi yang dipergunakan masih seperti generasi sebelumnya, yaitu double wishbone dengan per daun dipasang melintang untuk bagian depan, serta per daun dengan posisi di bawah gardan (under axle) untuk bagian belakang.

Pada 1982, generasi kedua ini mengalami penyempurnaan dengan penambahan kunci pintu kanan (Lho? Memangnya tadinya bagaimana? Dan kok cuman kanan, yang kiri gimana?). Tahun 1983, transmisi dan differential-nya disempurnakan, sekaligus dilakukan penambahan booster untuk sistem pengereman. Buset, ternyata selama ini ‘the small truck’ ini remnya gak pake booster? Sebagai gambaran, Civic Excellent tahun 1980 jauh lebih dulu muncul, sudah dilengkapi booster dan lain-lain layaknya mobil modern. Gril dan bumper bagian depan diubah dengan tampilan yang lebih menarik.

Features yang ditambahkan ke Toyota Kijang bukanlah sesuatu yang baru, tetapi semangat untuk menyesuaikan dengan perkembangan kebutuhan pelanggannya, semangat untuk terus belajar, dan semangat untuk terus melakukan improvement atau penyempurnaan dari Toyota dan Toyota Astra Motor merupakan salah satu kunci keberhasilan Toyota Kijang selama 25 tahun lebih terakhir ini.

Di ambil dari Ilmuiman.web.id.& tulisan Arientoko Haryo Pamungkas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>